Tuesday, March 2, 2010

Hati Seorang Ayah

0 comments

Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya, tatkala
tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai
berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara
batuk-batuknya.

Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kian
berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?" Demikian
pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. Ayahnya menjawab :
"Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam :
"Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya
tercenung rasa penasaran.

Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus
menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu memang
belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang membuat
anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu bertanya
kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan badannya
kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada
keluhan dan rasa sakit ?"

Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar
bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya itu
jawaban sang Ibu. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi
dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan menjadi
berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ? Hingga pada suatu
malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu seolah-olah dia
mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.

Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian
kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta
sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan
berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh
dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang
menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk
melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang
berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar
keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari
anak-anaknya."

"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang
menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya
matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan
karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya
terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua
orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya
selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh
kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan
kerapkali menyerangnya."

"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai
dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga,
walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman
pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya
itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu
anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama
saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian
dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang,
walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan
pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang
setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa
menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun
duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap
kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan,
sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu
senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara
agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga bahagia dan badannya yang
terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung
jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat
tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi
kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin
keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan
sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh Laki-laki,
walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia."

Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa
hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri kamar Ayahnya yang sedang
berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium
telapak tangan Ayahnya. "Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."

from : Facebook Orang Blitar Continue Reading

Wednesday, February 24, 2010

Dedaunan yang Berguguran

0 comments

Barangkali kematian yang paling sulit kita terima adalah kematian dari seorang anak. Pada beberapa kesempatan saya pernah diberi kehormatan untuk memimpin upacara pemakaman bagi seorang anak laki-laki atau perempuan, seseorang yang belum lama mengecap pahit manisnya kehidupan. Tugas saya adalah membantu menuntun orang tua yang sedang putus asa, dan juga anggota keluarga yang lainnya, mengatasi siksaan rasa bersalah dan tuntutan obsesif atas jawaban dari pertanyaan, "Mengapa?"

Saya sering menceritakan kisah perumpamaan berikut ini, yang dikisahkan kepada saya beberapa tahun silam di Thailand.

Seorang bhikkhu hutan yang sederhana tengah bermeditasi sendirian di sebuah pondok jerami di tengah hutan. Pada suatu larut malam, terjadilah badai musim hujan yang garang. Angin menderu-deru bagaikan suara mesin jet dan hujan yang deras menerpa pondoknya. Semakin malam beranjak pekat, badai makin bertambah liar. Mula-mula, dahan-dahan pohon terdengar tercerabut dari batangnya. Lalu seluruh bagian pohon terengut oleh angin ribut dan dihempaskan ke tanah dengan suara sekeras guntur.

Sang bhikkhu segera sadar bahwa pondok jeraminya tak akan sanggup melindunginya. Jika sebuah pohon tumbang menimpa pondoknya, atau meskipun cuma sebuah dahan besar, pondoknya akan rata dengan tanah dan meremukkannya sampai mati. Dia tidak tidur sepanjang malam. Seringkali sepanjang malam itu, dia seolah-olah mendengar para raksasa hutan mendobrak ke permukaan tanah dan hatinya berdegup untuk sesaat.

Beberapa jam sebelum fajar menyingsing, secepat datangnya, begitu pula badai itu berlalu. Di pagi hari, sang bhikkhu keluar dari pondoknya untuk memeriksa kerusakan yang terjadi. Banyak dahan besar dan dua pohon berukuran lumayan yang luput mengenai pondoknya. Dia merasa beruntung masih hidup. Apa yang tiba-tiba menarik perhatiannya bukanlah pohon-pohon yang tumbang dan dahan-dahan patah yang berserakan dimana-mana, tetapi dedaunan yang sekarang menyebar menutupi lantai hutan.

Seperti dugaannya, kebanyakan dedaunan yang berguguran adalah daun-daun yang berwarna coklat tua, yang telah memenuhi umur kehidupannya. Di antara dedaunan yang berwarna coklat terdapat banyak daun yang kuning. Bahkan terdapat pula beberapa daun yang hijau. Dan daun-daun yang berwarna hijau itu masih segar dan cerah sehingga sang bhikkhu tahu bahwa dedaunan itu baru saja jatuh dari pucuknya. Pada saat itulah hati sang bhikkhu memahami sifat kematian sebagaimana adanya.

Dia ingin menguji kebenaran dari pengetahuan yang baru saja dia pahami itu, lalu dia mendongak ke arah dahan-dahan pohon itu. Cukup meyakinkan, hampir sebagian besar dedaunan yang tertinggal di pohonnya adalah dedaunan hijau yang sehat segar, pada kehidupan dininya. Namun, meskipun banyak dedaunan muda yang gugur di atas tanah, ada sebagian daun berwarna coklat tua peot dan keriting yang tetap bertahan didahannya. Sang bhikkhu tersenyum, mulai hari itu, kematian dari seorang anak tak akan pernah lagi membingungkannya.

Ketika badai kematian datang menghempaskan keluarga kita, badai itu biasanya mengambil orang-orang yang sudah tua, "dedaunan yang coklat burik". Badai itu juga mengambil orang-orang yang berusia paruh baya, seperti daun-daun kuning di pohon. Kadang, anak-anak belia pun meninggal juga, pada usia dini mereka, seperti halnya dedaunan yang berwarna hijau. Dan suatu kali kematian juga merenggut kehidupan dari anak-anak yang kita kasihi, seperti badai merenggut tunas yang masih hijau. Inilah sifat hakiki dari kematian dalam kehidupan kita, sebagaimana hakikat badai di sebuah hutan.

Tak seorang pun yang perlu disalahkan dan tak seorang pun yang harus merasa bersalah atas kematian dari seorang anak. Inilah sifat alami dari segala sesuatu. Siapa yang bisa menyalahkan badai? Hal ini dapat membantu kita untuk menjawab pertanyaan mengapa anak-anak meninggal. Jawabannya sama dengan mengapa sebagian daun yang masih hijau berguguran dalam sebuah badai. (Ajahn Brahm, "Membuka Pintu Hati" bab tentang Penderitaan dan Pelepasan)

Sumber: Disadur dari buku "Membuka Pintu Hati 108 Cerita Tentang Kebahagiaan Sejati"
From : Facebook Orang Blitar Continue Reading

Bersyukur Atau Mengeluh

0 comments

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
~Tawarikh

“Bertahun-tahun saya berdoa agar diberikan pacar namun saya tidak juga memperolehnya,” kata seorang mahasiswa kepada saya. Ia juga menyatakan kekecewaannya kepada Tuhan. “Tuhan seakan cuek dan tidak mendengarkan doa saya,” keluhnya. Lain lagi kisah seorang teman yang bertahun-tahun berdoa meminta kekayaan (materi) kepada Tuhan namun ia tidak juga memperolehnya. “Padahal saya telah berniat untuk mendirikan panti asuhan dan membangun rumah ibadah kalau saya jadi orang kaya. Ini kan niat yang mulia.” katanya. Lambat-laun ia kemudian merasa kalau hidupnya tidak diberkati. Benarkah demikian?

Secara pribadi, saya dan istri saat-saat sekarang ini benar-benar diingatkan kembali oleh Tuhan mengenai satu pelajaran yang amat berharga yakni mengenai berkat Tuhan yang hampir tidak pernah kita syukuri yaitu kesehatan. Kami baru benar-benar menyadari betapa berarti dan mahalnya kesehatan bagi hidup seseorang. Tidak heran seorang sahabat pernah menasihati saya, ”Kamu tidak akan pernah memahami apa arti kesehatan yang sesungguhnya sampai kamu benar-benar sakit!”

Tiga tahun hidup berumah tangga tanpa kehadiran seorang anak terkadang membuat kami merasa kesepian. Suatu ketika, saya pernah punya rencana untuk mengadopsi anak terlantar atau anak yang orang tuanya kurang mampu (sampai sekarang pun saya masih punya impian agar bisa menyekolahkan 3.000 anak yatim piatu suatu hari nanti). Kami terus berdoa agar dikarunia anak. Kami sangat percaya, kalau Tuhan memang menghendaki hal tersebut tentu kami akan menerimanya. Hanya kami perlu bersabar agar semuanya bisa indah pada waktunya.

Siapa sangka jika di tahun ketiga pernikahan kami, istri saya mengandung. Dan, tepat 20 Desember 2005 lalu, putri pertama kami, Priscilla Natali Winarto lahir melalui operasi caesar. Beratnya saat lahir hanya 1,6 kg. Priscilla terpaksa dilahirkan lebih dini (prematur, 34 minggu) karena air ketuban dalam kandungan ibunya kurang. Secara medis, hal ini terpaksa dilakukan demi menjamin keselamatan sang bayi. Kami begitu bersyukur atas anugerah terindah ini dan kami berjanji kepada Tuhan akan mengasihi Priscilla tanpa syarat (unconditional love). Kami berjanji akan mendidik dia sebaik-baiknya.

Sebulan lebih telah berlalu, namun Priscilla belum juga boleh kami bawa pulang. Ia masih dirawat di inkubator Rumah Sakit St. Borromeus Bandung karena ada masalah pada salah satu pembuluh darahnya di dekat jantung. Inilah yang membuat Priscilla bernapas dengan ritme yang cepat, tidak seperti bayi normal lainnya. Kami sering kasihan melihat dia. Apalagi selama beberapa pekan dia harus disuntik beberapa kali sehari. Belum lagi, ia harus bernapas dengan menggunakan bantuan selang oksigen (tentu oksigen yang dihirupnya harus dibayar. Bandingkan dengan kita yang menerimanya secara cuma-cuma). Priscilla kemudian sempat menjalani operasi. Saat itu usianya baru 41 hari dan berat badangnya baru 2,1 kilogram. Puji Tuhan, semua berjalan lancar dan Priscilla sembuh.

Dalam situasi apa pun, kami belajar untuk tetap bisa bersyukur. Berat badan Priscilla relatif terus naik. Dia semakin aktif dan semakin lucu. Tidak pernah sehari pun kami tidak melihatnya tersenyum. Priscilla sangat murah senyum.

Kami percaya bahwa Tuhanlah yang memberi dan Tuhan pula yang akan mengambil. Kalau Priscilla memang dipercayakan kepada kami untuk dirawat dan dibesarkan maka kami akan melakukan yang terbaik. Kerap dalam doa, kami berkata, ”Tuhan... ajari kami untuk tetap percaya bahwa kehendak-Mu adalah yang terbaik.” Doa itu hampir selalu membuat kami meneteskan air mata. Bahkan, pada saat saya menulis alinea ini, mata saya menjadi berkaca-kaca.

Saya menulis artikel ini bukan untuk membuat Anda sedih atau meminta dikasihani. Sama sekali tidak! Namun pegalaman yang kami alami ini membuat kami semakin menyadari arti berkat Tuhan dan mensyukurinya. Hal ini membuat kami semakin mengerti arti kesehatan. Banyak orang yang senantiasa mengeluh dan merasa hidupnya tidak diberkati. Barangkali ia berpikir berkat selalu identik dengan uang atau materi. Namun pengalaman kami ini sungguh mengajarkan kami mengenai berkat-berkat lain yang hampir tidak pernah kita syukuri. Bagaimana menurut Anda? ***

Sumber: Bersyukur Atau Mengeluh oleh Paulus Winarto. Paulus Winarto adalah pemegang 2 Rekor Indonesia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) yakni sebagai pembicara seminar yang pertama kali berbicara dalam seminar di angkasa dan penulis buku yang pertama kali bukunya diluncurkan di angkasa.

from: Facebook Orang Blitar Continue Reading

Friday, February 19, 2010

Melihat Teman Online Dalam Kondisi Offline - petak umpet di Facebook

0 comments

Sedang jenuh dengan pekerjaan di kantor saat jam kerja dan ingin sedikit melirik facebook melihat apa saja yang terjadi baru-baru ini. Tetapi Anda takut terlihat online dan diajak ngobrol salah satu teman Anda yang juga sedang online yang kemudian ketahuan oleh sang bos, kena marah dan bla..bla...bla...

Atau mungkin Anda sedang menghindar dari seseorang dan tidak ingin orang tersebut mengetahui bahwa Anda sedang online karena malas diajak chating. Ingin mengecek terlebih dahulu apa orang tersebut sedang online atau tidak, sebelum Anda benar-benar mengaktifkan status online untuk chating.

Jika ingin melihat facebook tanpa resiko diajak chating oleh teman, jangan lupa matikan status online yang ada di sebelah kanan bawah halaman facebook. Tetapi Anda ingin tahu siapa saja yang sedang online, kalau offline Anda tidak tahu siapa saja yang sedang online. Mungkin karena ada orang tertentu Anda ingin terlihat online. Apa ada cara mengetahui siapa saja yang online ketika kita dalam keadaan offline?

tips facebook
Ternyata jawabannya ada, yaitu dengan aplikasi Appear Offline , dengan aplikasi ini kita dapat melihat orang yang sedang online di facebook walaupun kita dalam keadaan offline. Di halaman aplikasi ini menampilkan teman kita yang sedangg online dan membaginya dalam 2 kategori yaitu :

Active Friends
Idle Friends
Melihat Teman Online Dalam Kondisi Offline di Facebook - Appear Offline
Selain itu aplikasi ini juga menambahkan fasilitas Bookmarks untuk shortcut aktivitas ke teman-teman kamu dan Friend B'day untuk melihat semua tanggal ulang tahun teman-teman kita.

Selamat bermain petak-umpet di facebook
Continue Reading

KELOMPOK - KELOMPOK TUKANG TIPU DI FACEBOOK

0 comments

Banyak creator/inisiator Group dan FanPage di Facebook menggunakan cara-cara yang -menurut saya- culas, demi mengumpulkan member sebanyak2nya dengan cepat.

Ada banyak motif melakukan hal semacam ini mulai dari tujuan kampanye/ cybermarketing, hingga yg jahat spt: mencuri user.id dan password dari para korban (baca: member) nya.


Saya mengkategorikan "penipuan mayapada" kelas teri tsb dlm 4 jenis sbb:

1. Bohong dipersyaratan, demi merekrut member dengan cepat
Ciri-cirinya:
Memberi iming2 sesuatu yg memberi nilai guna (tdak selalu berupa materi), namun utk mendapatkan tujuan tersebut, member diharuskan melakukan sesuatu yg samasekali tidak relevan.

Contoh grup/fanpage yg seperti ini, misalnya; Group "Membuat tulisan terbalik di Facebook"
Dalam kasus ini, cara membuat Tulisan terbaliknya sendiri tidak bohong. Dalam arti secara teknis memang bisa membuat tulisan terbalik ıuı ıʇɹǝdǝs.
Anda pun bisa membuatnya koq (tanpa hrs terlebih dulu jd member grup2 tsb). Salah satunya dengan menggunakan halaman ini: http://mobinessia.com/flip.php -misalnya.

Yang saya nilai sebagai "upaya pembodohan" adalah pada bagian petunjuk pelaksanaannya, dimana member diarahkan untuk me-refer orang-orang dari frenlistnya terlebih dulu sebagai bagian dari step prosedur pelaksanaan membuat tulisan terbalik.

Bagi saya hal ini menggelikan. Kalau memang niatnya mau berbagi/ mengajarkan orang utk membuat tulisan terbalik, ya ajarkan saja langsung cara nya. Jangan "membohongi" dgn memasukan aktivitas "ajak teman lain" sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri.
Bila setelah mengajarkan/berbagi cara kemudian pada bagian lain ada permintaan utk "refer 2 fren" itu akan lain masalahnya.

Intinya, bila Anda ingin bergabung dengan kelompok sejenis, namun mensyaratkan Anda utk me-refer terlebih dulu pd teman2 Anda, lewati saja bagian tersebut alias cuekin aja perintah utk ngajak2 teman.

2. Bohong samasekali
Ciri-cirinya:
Memberi janji sesuatu yg berguna, tapi tidak mungkin dilakukan. Termasuk juga kelompok-kelompok solidaritas yang mengusung suatu Hoax (kebohongan).
Contoh grup/fanpage yg seperti ini, misalnya;
- Cara mengetahui siapa yg melihat profile kita
Hal ini palsu alias mustahil, karena Facebook tidak membuka API untuk melakukan hal tersebut.
Saya pernah mencoba menengok salah satu aplikasi yg "katanya" mampu perlihatkan data orang-orang yg mengintip profil kita. Ketika pertamakali muncul daftar nama orang-orang (dari frenlist saya) yg di klaim telah mengintip profil saya, saya pun langsung ketawa sendiri lantaran dari sebagian nama yg muncul adalah publik figur dari frenlist saya -yang saya yakini jarang buka Facebook, apalagi berminat mengenal profil saya :D
Tapi saya msh kurang "tidak percaya". Utk meyakinkan saya bahwa list ini bohong belaka, saya me-refresh / mengeksekusi lagi aplikasi tsb beberapa kali dalam jarak waktu yg dekat. Hasilnya; daftar "orang-orang yg mengintip profile saya" itu pun berubah dlm waktu yg singkat.
Tentunya hal tersebut adalah mustahil, kecuali saya amat sangat populer sekali di FB :P
Jadi kesimpulan saya bhw aplikasi tsb sekedar menampilkan daftar 10 nama yg diambil secara acak dari daftar frenlist saja.

- Page/Group: KAMI TIDAK MAU BAYAR 150ribu/bln FACEBOOK /JuliI 2010
Hehe.. sampai sejauh ini sih FB msh belum keabisan duit sampai-sampai perlu menarik iuran dari usernya. Grup ini merupakan tiruan dari group senada yg awalnya muncul di luar.
FB pun sudah pernah melansir bantahan thd rumor semacam ini, spt yg tertulis dlm artikel berikut

http://www.telegraph.co.uk/technology/facebook/6973757/Facebook-dismisses-rumours-of-charging-plans.html

3. Grup/Page yang benar2 Maling
Modus operandi group yg berprilaku spt maling ini umumnya menyiapkan sebuah alamat URL yg bila dibuka akan menampilkan tampilan yg menyerupai halaman login FB. Kemudian mensyaratkan user utk "login lagi" dari halaman palsu tersebut agar dapat memperoleh sesuatu yg dijanjikan.
Hey, bukankah Anda pd saat ini sudah login pd FB?? Lalu kenapa harus "login lagi" pdhal Anda kan belum logout.
Tentu motifnya tidak lain agar Anda "tanpa sadar" memberitahu user id & password Anda pada pihak lain (pihak maling ybs).
Contoh grup semacam ini:
Saya pernah jumpai di grup2 yg sejenis dgn grup2 yg senada dgn contoh2 sebelumnya, juga disebagian dari grup yg senada dengan "Cara cepat dapat teman dalam waktu singkat".

4. Grup yg gak perlu dikomentari lagi :)
hehe.. grup2 yg saya maksud dgn kategori ini biasanya diprakarsai oleh pelaku internet bisnis yg tdk fair, MLM, Skema piramida dan yg sejenisnya.
Saya tdk terlalu minat mengomentari apa2 thd grup/page sejenis ini yg biasanya menggunakan bahasa bunga yg terlalu amat sangat keterlaluan berlebihannya. ;)
Singkat saja; yg pasti tak ada makan siang yg gratis, tak ada cara instan dapat uang, tak ada orang jadi kaya karena tidur :P
Contoh grup semacam ini banyak banget, misalnya:
- Bagaimana menghasilkan uang melalui FaceBook tanpa modal..
hehe.. mimpi kalee, utk koneksi ke Facebooknya aja udah butuh modal kan :P
- Cari Uang Gratis, Cara Cepat Dapat Uang, Cara Mudah Dapat Uang di Inernet dan sejenisnya
Kalau toh benar ide yg diusung, semestinya creator grup sejenis ini diangkat jadi Mensos, atau Menkokesra sekalian. Niscaya cari orang miskin menjadi sulit di Indonesia :P


Nah, bila Anda spt saya; suka sebal melihat perilaku tepu-tepu dari grup/page yg modus operandi nya spt diatas, Anda bisa melakukan hal kecil yang bisa jadi akan berguna bagi orang lain- yaitu dengan melaporkan penyimpangannya pd pengelola Facebook.
Biasanya pada tampilan grup/page ybs tertera icon kecil bertuliskan "Report" yang berguna utk melaporkan adanya pelanggaran.

---oOo---
Penulis: Widyo Rio
http://mobinessia.com
-blogging anywhere

Terima kasih mas Rio atas artikelnya yang cukup dalam menyajikan tentang Group dan FanPage Facebook yang belakangan ini sering sekali disalahgunakan. Mudah-mudahan para adminya pada insaf dan kembali kejalan yang benar (biar ga nyasar) Continue Reading

Dedaunan yang Berguguran

0 comments

Barangkali kematian yang paling sulit kita terima adalah kematian dari seorang anak. Pada beberapa kesempatan saya pernah diberi kehormatan untuk memimpin upacara pemakaman bagi seorang anak laki-laki atau perempuan, seseorang yang belum lama mengecap pahit manisnya kehidupan. Tugas saya adalah membantu menuntun orang tua yang sedang putus asa, dan juga anggota keluarga yang lainnya, mengatasi siksaan rasa bersalah dan tuntutan obsesif atas jawaban dari pertanyaan, "Mengapa?"

Saya sering menceritakan kisah perumpamaan berikut ini, yang dikisahkan kepada saya beberapa tahun silam di Thailand.

Seorang bhikkhu hutan yang sederhana tengah bermeditasi sendirian di sebuah pondok jerami di tengah hutan. Pada suatu larut malam, terjadilah badai musim hujan yang garang. Angin menderu-deru bagaikan suara mesin jet dan hujan yang deras menerpa pondoknya. Semakin malam beranjak pekat, badai makin bertambah liar. Mula-mula, dahan-dahan pohon terdengar tercerabut dari batangnya. Lalu seluruh bagian pohon terengut oleh angin ribut dan dihempaskan ke tanah dengan suara sekeras guntur.

Sang bhikkhu segera sadar bahwa pondok jeraminya tak akan sanggup melindunginya. Jika sebuah pohon tumbang menimpa pondoknya, atau meskipun cuma sebuah dahan besar, pondoknya akan rata dengan tanah dan meremukkannya sampai mati. Dia tidak tidur sepanjang malam. Seringkali sepanjang malam itu, dia seolah-olah mendengar para raksasa hutan mendobrak ke permukaan tanah dan hatinya berdegup untuk sesaat.

Beberapa jam sebelum fajar menyingsing, secepat datangnya, begitu pula badai itu berlalu. Di pagi hari, sang bhikkhu keluar dari pondoknya untuk memeriksa kerusakan yang terjadi. Banyak dahan besar dan dua pohon berukuran lumayan yang luput mengenai pondoknya. Dia merasa beruntung masih hidup. Apa yang tiba-tiba menarik perhatiannya bukanlah pohon-pohon yang tumbang dan dahan-dahan patah yang berserakan dimana-mana, tetapi dedaunan yang sekarang menyebar menutupi lantai hutan.

Seperti dugaannya, kebanyakan dedaunan yang berguguran adalah daun-daun yang berwarna coklat tua, yang telah memenuhi umur kehidupannya. Di antara dedaunan yang berwarna coklat terdapat banyak daun yang kuning. Bahkan terdapat pula beberapa daun yang hijau. Dan daun-daun yang berwarna hijau itu masih segar dan cerah sehingga sang bhikkhu tahu bahwa dedaunan itu baru saja jatuh dari pucuknya. Pada saat itulah hati sang bhikkhu memahami sifat kematian sebagaimana adanya.

Dia ingin menguji kebenaran dari pengetahuan yang baru saja dia pahami itu, lalu dia mendongak ke arah dahan-dahan pohon itu. Cukup meyakinkan, hampir sebagian besar dedaunan yang tertinggal di pohonnya adalah dedaunan hijau yang sehat segar, pada kehidupan dininya. Namun, meskipun banyak dedaunan muda yang gugur di atas tanah, ada sebagian daun berwarna coklat tua peot dan keriting yang tetap bertahan didahannya. Sang bhikkhu tersenyum, mulai hari itu, kematian dari seorang anak tak akan pernah lagi membingungkannya.

Ketika badai kematian datang menghempaskan keluarga kita, badai itu biasanya mengambil orang-orang yang sudah tua, "dedaunan yang coklat burik". Badai itu juga mengambil orang-orang yang berusia paruh baya, seperti daun-daun kuning di pohon. Kadang, anak-anak belia pun meninggal juga, pada usia dini mereka, seperti halnya dedaunan yang berwarna hijau. Dan suatu kali kematian juga merenggut kehidupan dari anak-anak yang kita kasihi, seperti badai merenggut tunas yang masih hijau. Inilah sifat hakiki dari kematian dalam kehidupan kita, sebagaimana hakikat badai di sebuah hutan.

Tak seorang pun yang perlu disalahkan dan tak seorang pun yang harus merasa bersalah atas kematian dari seorang anak. Inilah sifat alami dari segala sesuatu. Siapa yang bisa menyalahkan badai? Hal ini dapat membantu kita untuk menjawab pertanyaan mengapa anak-anak meninggal. Jawabannya sama dengan mengapa sebagian daun yang masih hijau berguguran dalam sebuah badai. (Ajahn Brahm, "Membuka Pintu Hati" bab tentang Penderitaan dan Pelepasan)

Sumber: Disadur dari buku "Membuka Pintu Hati 108 Cerita Tentang Kebahagiaan Sejati"
Nuhan wahyudi (Facebook Orang Blitar) Continue Reading

Motor Tua

0 comments

Dengan riang kulangkahkan kaki memasuki pekarangan rumah. Ah, cukup lama aku meninggalkan orang-orang yang kucintai. Dengan haru yang memenuhi rongga dada, kunikmati setiap langkah rindu.. Namun langkahku terhenti, pandanganku tertumbuk pada sebuah motor tua. Ya, motor itu sudah sangat tua dan tidak bisa lagi dipergunakan sebagaimana mestinya. Tidak berlebihan ketika papa mempertahankannya tetap ada sebagai prasasti kenangan indah di masa lalu.

20 tahun yang lalu motor itu sangat berarti. Allah menyatukan hati papa, mama, aku dan adik-adik (aku empat orang bersaudara) syariatnya lewat kendaraan bekas yang sekarang sudah dipenuhi debu dan karat itu. Sebagai pegawai negeri biasa, papa dan mama hanya bisa mencicil sebuah motor sebagai sarana transportasi kami sekeluarga. Waktu itu aku berusia 5 tahun, adikku no 2 berusia 3 tahun, no 3 berusia 2 tahun dan adik bungsuku berusia kira-kira 5 bulan. Dengan ekonomi yang pas-pasan orang tuaku membesarkan, merawat dan mendidik anak-anaknya tanpa bantuan siapapun, kecuali kalau ada saudara yang bersilaturami dan nginap. Jadi, kalau kedua orang tua pergi, kami semua pasti dibawa.. tentu saja dengan motor tua itu.

Sejenak, senyumku mengembang seiring memori yang tetap mengalunkan kenangan indah. Urutan-urutan di motor itu adalah : adikku no.2 di depan sekali (di tank bensin), papa (sebagai rider), adikku no.3, aku dan terakhir mama duduk miring ke satu arah dengan menggendong adik bungsuku yang masih bayi. Mmh.. unik bukan ? Aku juga ga habis pikir kenapa bisa muat dan kenapa orang tuaku begitu berani ? Tapi sudahlah, semua sudah berlalu dan aku sedang menikmati kebersamaan kami ketika itu. Selama enam tahun parade keluarga dengan motor tua berlangsung.

Ketika adik bungsuku berumur 2 tahun, urutannya mulai berubah. Adikku no.3 di tank bensin, adikku no.2 di belakang papa, kemudian adik bungsuku, aku dan mama dalam posisi bebas. Papa seakan tak pernah bosan menjalani tugas rutinnya. Hal pertama yang dilakukan papa adalah stand by dan menghidupkan motor, kemudian mengangkat adik no. 3 dan mendudukkannya di depan papa, kemudian menunggu mama memposisikan adikku no.2, adik bungsuku dan aku dan terakhir mama mencari posisi (terkesan ribet ya ?... tapi kami menikmatinya lho.. ). Urutan-urutan ini berubah seiring membesarnya ukuran tubuh kami .. (ijinkan aku untuk kembali tersenyum… senyum bahagia, sobat).

Hal yang paling bertahan dalam ingatanku adalah ketika tiba-tiba hujan turun, papa segera menepikan motornya, kami semua diturunkan karena mantel hujan tersimpan di bawah sadel. Mantel dikeluarkan .. kemudian kami kembali menempati posisi dan masuk ke dalam mantel. Mantel satu dipakai ramai-ramai. Pemandangan yang tadinya indah mendadak gelap gulita tapi tawa canda tetap mewarnai perjalanan hingga tempat tujuan.

Namun… perjalanan hidup tidak selamanya bahagia. Di suatu sore, di jalan berpasir (aku tinggal di daerah pantai) dalam keadaan kurang sehat, papa pulang ke rumah untuk istirahat. Namun di perjalanan papa tidak sempat mengelakkan segerombolan sapi yang melintas dan menabrak salah satunya. Papa terpental dari motor. Ditolong oleh seorang pemuda, papa dibawa ke tukang urut. Papa patah kaki dan cuti sampai pulih. Otomatis, kebersamaan di motor tua terhenti untuk sementara waktu. Terasa ada yang lain.. kami merindukan kehangatan berdesakan di motor tua (tak terasa air mataku mengalir).. TK sampai SD ku nikmati penuh kenangan kebersamaan…

Betapa bersyukurnya aku dikarunia keluarga yang hidup pas-pasan oleh Allah. Kenangan ini menjadi milikku… belum tentu dimiliki oleh orang lain. Allah pasti telah merencanakan hal ini untuk keluargaku. Kebahagiaan dan kebersamaan keluargaku dibangun di atas motor tua. Antara percaya dan tidak, tapi aku yakin motor itu jadi salah satu sarana kehangatan aku dan keluarga hingga sekarang.

Ku ingin berterimakasih padamu motor tua. Walau sekarang kau hanya bisa diam mematung, jasa-jasamu tetap terpatri di dalam hati. Dengan menyusut air mata, kulangkahkan kaki menuju pintu dan subhaanallaah suara orang tua dan adik-adikku tetap riuh rendah, sama seperti dulu menyambut kedatanganku… Betapa hangatnya cinta-Mu ya Allah. Ijinkan aku untuk selalu ingin memiliki cinta ini…dalam sabar dan syukurku…

Ayo sobat, bangkitkan kenanangan indah beserta anggota keluarga.. insya Allah kebahagiaan dan semangat akan selalu mewarnai hidup kita. Jangan lupa berterimakasih kepada orang-orang yang telah berjasa kepada kita. “Allah mencintai orang yang berkasih sayang”

by: Nuhan Wahyudi
facebook orang blitar Continue Reading

 

Copyright 2010 All Rights Reserved | Super Template by Ilmu Komputer | Modified by Ilmu Grafis | Original Wordpress theme by Ahli Desain